PARA KYAI KITA
Seorang kyai –terdapat banyak pendapat asal-muasal kata ini. Kyai dalam istilah Jawa adalah seseorang/sesuatu yang dimuliakan dan dikultuskan konon sampai kerbaupun di Kasunanan Surakarta disebut juga kyai, kyai Slamet, atau seperangkat gamelan di Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat, disebut kyai Gunturmadu. Sisi lain, sebutan kyai juga ditafsiri sebagai al-Hayyi atau seseorang yang konsist menghidupkan agama. Terdapat tafsir juga bahwa istilah kyai adalah seorang yang alim (tafaqquh fiddin) atau bahasa populernya ulama- yang di Indonesia menduduki tempat yang lumayan penting dalam poros kehidupan kaum muslimin. Dalam banyak hal mereka dipandang menempati kedudukan dan otoritas keagamaan setelah Nabi SAW. Salah satu Hadis Nabi yang sangat masyhur melegitimasi seorang kyai dinyatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Karenanya mereka sangat dihormati oleh kaum muslimin lainnya, pendapat mereka dianggap sebagai fatwa yang harus diikuti, benarkah.
***
Sudah berabad-abad lamanya dari perut pondok pesantren lahir tokoh-tokoh penting yang memainkan peran penting dalam khasanah intelektual Islam. Tapi sampai kini, masih sangat sedikit perhatian yang dicurahkan generasi masa kini untuk mengupas tuntas perihal kontribusi mereka di dalam pengembangan pemikiran Islam. Akibatnya perbincangan tentang intelektualisme pesantren ibarat lapangan yang dibiarkan tandus lagi merana.
Umumnya khalayak, bila membicarakan tokoh-tokoh pesantren seringnya berkutat pada dua hal, politik dan mistik. Penempatan tokoh pesantren dalam wacana politik sudah sering kita dengar, sering kita baca bahkan studi penilitian pun terus-terusan, sehingga tidak mengherankan bila seorang kyai pandai di panggung perpolitikan. Kedua, penempatan kyai sebagai tokoh dunia mistik, seperti diketahui mereka diakui oleh sebagian masyarakat lewat kejadian-kejadian luar biasa (khoriqul 'addah) atau dunia lain yang kemudian -di dunia pesantren disebut dengan njadug atau kejadugan- disebut karomah.
Selain dua tipikal kyai di atas, sebenarnya masih banyak julukan-julukan kyai tidak saja mereka lihai mengaji namun urusan "nyambi" pun tak kalah inti. Di dunia perkyaian lantas dikenal nama-nama kyai bisnisman, kyai budayawan, kyai seniman, kyai tahlilan dan kyai-kyai yang lain.
Kedua atau ketiga hal tersebut agaknya menjadi pemandangan teramat biasa, mengingat saat ini politik dan mistik bersinergi dalam satu tubuh kyai. Sebenarnya ada hal lain yang lebih penting untuk kita ketahui. Kiprah dan perjuangan para pewaris Nabi ini sering kita lupakan. Terutama menyangkut intelektualisme yang mereka bangun bertahun-tahun.
Jujur saja, kita terlampau lupa akan sejarah dunia Islam kita, Islam Indonesia, Islam Jawa yang telah sekian ribu tahun berlalu. Tanah ini melahirkan tokoh-tokoh ulama kaliber Internasional, diakui oleh masyarakat dunia. Mereka bukan dikenal karena pinter bermain politik, mengalahkan lawan hingga tak berkutik, pandai mencari benda-benda bertuah atau meng-ijazah-kan ilmu mabur tanpa swiwi, mlaku tanpa sikil, ngomong tanpa mikir, atau saudagar kaya minyak, tuan tanah, santrinya banyak dsb. Barangkali kita terlelap tidur di saat guru kita menerangkan perjuangan mereka atau kita pura-pura tidak mendengar karya-karya monumental mereka.
Mereka adalah seorang kyai sekaligus pejuang yang gigih serta pemikir yang memiliki pandangan jauh ke depan. Pandangan dan cita-citanya tidaklah terdapat pada masyarakat di lingkungan kyai saja (pesantren), tetapi jauh menembus berbagai kehidupan, sosial, politik ekonomi, budaya dan lain-lain. Maka tidak mengherankan mereka dihormati bukan karena cita-cita mereka, tapi sebab mereka telah mengaktualisasikan diri dan ilmunya dalam kehidupan, meskipun dengan susah payah dan menghadapi kesulitan, baik dari dalam maupun dari luar.
KH. Nawawi al-Bantani yang lahir 1869 M di Banten Jawa Barat, misalnya dikenal dengan sosok ulama, tokoh bersarung, kyai ndeso yang kualitas intelektualnya bertaraf internasional. Namanya diabadikan sebagai salah satu tokoh bersama Sukarno dalam kamus al-Munjid, karya besar Lois Ma'luf. Banyak cerita yang yang mengundang decak kagum sekaligus pembelajaran bagi kita. Syeikh Nawawi merupakan pilar keilmuan pesantren yang tak kurang menghasilkan 99 karya, dari berbagai disiplin ilmu. Beliau sangat produktif. Produktifitasnya dibuktikan hingga akhir hayatnya. Pada saat ia wafat ia dalam penyelesaian kitab Syarah Minhaj ath-Tholibin karya Yahya ibn Syaraf Ibn Hasan Ibn Husain Ibn Muhammad Ibn Jam'ah Ibn Hujam an-Nawawi.
Selanjutnya Kyai Mahfud at-Tarmasy, Syekh Yasin al-Padangi, Kyai Abbas Buntet, Kyai Munawwir Krapyak, Kyai Hasyim Asy'ari Tebuireng, dan sangat mungkin Kyai Asyhari Marzuqi (Allahummaghfirlahu, Amin), guru ruhani kita bersama. Mereka semuanya, tidak mengherankan kalau sampai saat ini masih menjadi tauladan kita. Bila semasa hidupnya, mereka dihormati dan disegani bukan karena pinter politiknya lupa rakyatnya, besar bisnisnya lupa infaqnya, banyak santrinya lupa ngajinya, tapi manfaat keilmuannya, kyai-kyai sekarang bagaimana?Wallahu A'lam Bisshowab.
Kareem Mustofa
Santri asal Sleman Yogyakarta

